Senin, 25 Juni 2012

Kabareskrim: Kemampuan Hacker Teroris Sudah Sejak Zaman Imam Samudra

Jakarta Polisi mengungkap cara para teroris mengumpulkan dana dari kejahatan dunia maya. Polisi menduga para teroris saat ini sudah memiliki kemampuan hacker.

"Sejak zaman Imam Samudra, sudah punya kemampuan IT," kata Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Sutarman di sela-sela acara pengobatan gratis Polri di RS Kramatjati, Jaktim, Sabtu (23/6/2012).

Sutarman menjelaskan cara teroris melakukan kejahatan dunia maya. Menurut Sutarman, cara teroris menjebol data server suatu pihak untuk mengumpulkan dana adalah dengan membuat program hacking. Program tersebut kemudian digunakan untuk masuk ke server bank untuk mengambil uang.

"Prinsipnya, hacker itu membuat suatu program, yang programnya itu bisa menembus programnya seseorang, yang kemudian dia bisa membuka program yang ada diserver seseorang baik itu server bank maupun server lain sehingga dia bisa mengubah data tersebut. Kalau data itu termasuk dengan akun atau data keuangan, dia bisa membobol dan memindahkan ke rekening orang lain," paparnya.

Diketahui, aksi cyber crime menjadi modus baru kelompok teroris mendanai aksinya. Seperti dilakukan RG yang ditangkap Densus 88. Ahli IT ini membobol situs forex trading dan uang ratusan juta yang diperolehnya, di antaranya untuk membiayai pelatihan teroris di Poso dan membeli senjata api.

"Yang bersangkutan memberikan dukungan Rp 667 juta untuk pelatihan paramiliter di Poso," ungkap Kabag Penum Polri, Kombes Boy Rafli Amar, di Jakarta, Jumat (22/6).

Selain itu, RG yang ditahan sejak Mei lalu diketahui juga memberikan sokongan dana untuk pembelian senjata bagi kelompok teroris sebesar Rp 200 juta. Namun temuan ini masih diperlukan pendalaman lebih lanjut.

Tidak ada komentar: